Menemukan dan Memperbaiki Passion

Dalam tulisan terdahulu tentang passion, saya mengakhiri paragraf dengan pesan ini, “Apabila Anda tidak memiliki passion dalam pekerjaan Anda, lebih baik Anda mencari pekerjaan lainnya!” Terdengar ekstrim, ya?

Ya, kita ingat mengapa kita menempatkan guru sebagai pilihan utama profesi kita. Kita ingin membantu siswa kita tumbuh dan berhasil. Itu sebabnya pesan-pesan antusisme dan kegairahan yang tinggi memompa semangat kerja kita.

Namun seiring berjalannya waktu, antusisme, kegairahan, dan semangat kerja tersebut hilang dari diri kita. Kita kehilangan passion! Kita menjadi tidak bergairah! Kita tidak bersemangat dalam bekerja.

Lantas, kalau kita tidak bisa bekerja dengan bergairah di tempat kerja, atau kita tidak memiliki semangat kerja di tempat kita bekerja, atau kita tidak memiliki kebanggaan atas pekerjaan kita, mengapa kita harus bertahan di situ?

Tetapi, apakah Anda memiliki pilihan lain yang lebih baik? Jika tidak, maka Anda harus memperbaiki diri. Paling tidak, Anda harus menemukan passion di pekerjaan Anda agar Anda bisa bekerja dengan gairah dan semangat yang tinggi. Dengan begitu, hasil pekerjaan Anda pun akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimana caranya? Silakan lanjutkan membaca!

Agar tetap bergairah dalam bekerja, kita memerlukan passion. Kita harus dapat membawa passion dalam pekerjaan kita sehari-hari.

Berikut adalah tiga jenis passion, yang apabila kita secara sadar memfokuskan diri untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan menggunakan ketiga jenis passion tersebut, kita akan menjadi guru yang selalu bergairah di depan kelas, setiap hari sepanjang tahun. Ketiga jenis passion tersebut adalah: Content Passion, Professional Passion, dan Personal Passion (Dave Burgess, 2012).

Content Passion. Passion ini terkait dengan materi pembelajaran. Coba jawab pertanyaan ini, “Di antara topik atau pokok atau materi yang Anda ajarkan, mana yang paling Anda sukai atau Anda nikmati ketika mengajar?

Sebagai contoh, saya sangat menikmati ketika mengajar menulis dan berbicara (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa), matematika, IPA, dan musik. Saya juga sangat menikmati ketika mengajarkan manajemen SDM, pengembangan diri siswa dan guru.

Ada guru lain yang sangat menikmati mengajar sejarah perjuangan bangsa, cerita-cerita kepahlawanan, ada juga guru yang menikmati mengajar apa saja di kelasnya. Yang terakhir ini hebat, dan tidak perlu melanjutkan membaca artikel ini!

Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika topik atau materi yang kita ajarkan tidak sesuai dengan passion kita? Untuk hal ini, professional passion dan personal passion akan membantu.

Professional Passion. Passion ini terkait dengan profesi Anda, tetapi bukan topik atau materi pelajaran. Sebagai pendidik, apa yang menggerakkan Anda? Apa yang membakar semangat di dalam diri Anda untuk berangkat ke sekolah setiap hari?

Hal tersebut terkait dengan alasan mengapa Anda menjadi guru (pendidik). Apakah karena Anda ingin bekerja untuk mendapatkan penghasilan? Bukan! Bukan sekadar itu, sebab jika Anda ingin bekerja untuk penghasilan, ada banyak pekerjaan yang lebih menjanjikan!

Anda ingin mengabdi kepada bangsa dan negara lewat jalur pendidikan. Anda suka pada pengembangan diri anak. Anda senang menginspirasi orang. Anda peduli pada keberhasilan orang lain. Anda mencintai anak-anak dan Anda senang jika anak-anak sukses dan menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara.

Personal Passion. Di luar profesi Anda, apa yang Anda sukai? Mungkin Anda menyukai magic, olahraga, musik, keluarga, kewirausahaan, pemasaran, pengembangan diri, atau yang lainnya. Itu semua termasuk personal passion.

Personal passion adalah passion yang Anda miliki secara pribadi, di luar dua jenis passion di atas. Untuk menjaga agar passion mengajar Anda tetap hidup, temukan cara sebanyak mungkin untuk memasukkan personal passion ke dalam pekerjaan Anda.

Hampir setiap personal passion dapat dimasukkan ke dalam proses pembelajaran di kelas. Misalnya Anda suka menggambar. Anda dapat mengembangkan pelajaran dalam gambar-gambar yang menarik, dan membiarkan siswa Anda untuk tidak hanya mengalami kekuatan, keterampilan dan imajinasi Anda, tetapi juga mulai mengembangkan keunikan mereka.

Biarkan siswa mengembangkan pelajaran dalam gambar-gambar sesuai keterampilan dan imajinasi mereka sendiri.

Jika Anda suka bermain gitar atau alat musik lain, bawa alat itu dan mainkan di kelas. Masukkan pelajaran ke dalam permainan musik Anda, dan biarkan siswa Anda menikmati pelajaran melalui musik yang Anda mainkan.

Membawa personal passion ke dalam kelas akan menguatkan Anda untuk menciptakan pelajaran yang lebih kuat karena Anda mengajar dari area kekuatan.

Hal ini juga akan memberikan kesempatan kepada siswa Anda untuk melihat bagaimana keterampilan unik mereka disiapkan dan passion bisa menjadi sesuatu yang penting, bermanfaat, dan dapat digunakan untuk masa depan mereka.

Catatan:

Hampir setiap personal passion dapat dimasukkan ke dalam proses pembelajaran di kelas. Artinya, tidak setiap personal passion dapat dimasukkan ke dalam pembelajaran di kelas.

Sebab itu kita harus menggali, mencoba, memperbaiki, dan menyesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Kreatiflah dan gunakan imajinasi anda!

Sumber: Teach Like a Pirate: Increase Student Engagement, Boost Your Creativity, and Transform Your Life as an Educator

Apabila Anda merasa ARTIKEL yang Anda baca di atas bermanfaat, silakan di-SHARE (di-BAGI) untuk teman lain agar mendapatkan manfaat yang sama.
%d blogger menyukai ini:
Essential SSL