Tips Melaksanakan Model Pembelajaran Kuantum

Tips Melaksanakan Model Pembelajaran Kuantum (1)

Tulisan kali ini saya buat khusus sebagai hadiah buat teman-teman pengunjung situs ini, yang kemungkinan besar adalah para guru sukses atau para guru yang ingin sukses sebagai agen pembelajaran. Pasalnya, berdasakan statistik artikel yang dipilih pengunjung, selama beberapa hari terakhir saya menemukan “Model Pembelajaran Kuantum” menduduki posisi teratas.

Asumsi saya, teman-teman berminat terhadap proses pembelajaran yang berkualitas, efektif dan efisien, sekaligus menyenangkan. Karena yang saya tulis pada artikel Model Pembelajaran Kuantum itu baru kulitnya (garis besarnya) saja, maka sebagai apresiasi pada teman-teman pengunjung situs ini, kali ini saya tulis Tips Melaksanakan Pembelajaran Kuantum.

Anda mungkin bertanya, “Lho memangnya melaksanakan pembelajaran juga ada tipsnya?” Ya, ada! Ini dari orang-orang yang memang telah melaksanakan model pembelajaran kuantum di kelasnya, lengkap dengan kesulitan dan efek kurang baik ketika terjadi proses pembelajaran. Untuk menyegarkan ingatan, coba cek kembali Tips Sukses Mengajar 1, Tips Sukses Mengajar 2, dan Tips Sukses mengajar 3.

Begini, di awal tahun 2000, seorang teman guru menemukan buku Pembelajaran Kuantum versi terjemahan. Isinya kan bagus itu kalau Anda sudah pernah membacanya. Dalam beberapa hari guru tadi telah menghabiskan keseluruhan isi buku. Tetapi, karena belum lihat buku aslinya, maka guru tadi jadi penasaran mengngat istilah-istilah yang digunakan ada beberapa yang aneh kalau itu terjemahan dari bahasa Inggris. Oleh karena itu guru tersebut kemudian menghubungi penulis aslinya Bobbi DePorter untuk mendapatkan buku aslinya.

Permintaan itu dipenuhi, guru tadi dikirimi buku aslinya, ditambah hasil-hasil penelitian para master dan doktor tingkat dunia, lengkap dengan jadwal kalau mau melaksanakan pembelajaran kuantum dengan baik dan benar. Berikut adalah Tips Melaksanakan Model Pembelajaran Kuantum di Kelas, yang saya buat berseri.

Tips # 1. Buat Aturan Main dan Sanksi

Pada awal kegiatan guru perlu membuat suasana kelas tetap segar sepanjang hari, sehingga siswa bergairah dalam pembelajaran. Guru perlu menyiapkan humor-humor segar yang dapat diselipkan di sela-sela proses pembelajaran. Dampak positif, siswa tetap bersemangat mengikuti proses pembelajaran dari pagi hingga siang. Dampak negatifnya, karena kebiasaan yang kurang mendukung pembelajaran terbuka, siswa yang dulunya harus mengikuti semua perintah guru kemudian diberi keleluasaan untuk melakukan hal-hal yang paling disukai, akhirnya ada anak yang terjebak pada euforia pembelajaran yang menyenangkan. Bahkan guru juga ada yang terjebak pada situasi ini. Misalnya, anak mulai berani berbicara di luar konteks (menyahuti pembicaraan guru sebelum guru selesai berbicara-nylemongbhs Jawa).

Langkah mengatasinya, buat aturan yang disepakati oleh seluruh kelas sehingga siswa tidak melanggar ketertiban kelas namun tetap memiliki kebebasan dalam berkespresi. Contoh, buat aturan bahwa ketika proses pembelajaran, semua warga kelas harus menghormati siapa pun yang berbicara. Aturannya: ketika orang lain berbicara, kita diam dan memperhatikan, ketika kita diberi kesempatan berbicara, kita bicara secara jelas, singkat dan padat. Ketika orang lain berbicara dan kita ingin menyela, kita harus memberikan tanda (dengan mengangkat tangan) dan setelah dipersilakan baru kita berbicara yang terkait dengan pembicaraan sebelumnya. Dilarang mengalihkan topik pembicaraan sebelum benar-benar selesai. Jika perlu aturan main itu ditulis besar-besar dan ditempel di dinding kelas agar anak selalu ingat.

Anak-anak diberi kesempatan khusus ketika memproses informasi (sesuai tipe indera belajarnya), sehingga ia tidak terganggu oleh orang lain sekaligus tidak mengganggu orang lain. Misalnya anak-anak tipe kinestetik diberi tempat (ruang) untuk mengekspresikan kemampuannya. Begitu pula anak-anak tipe auditorial dan visual. Pembelajaran tidak harus selalu di dalam kelas, kadang di luar kelas, ada pula sebagian di dalam dan sebagian di luar. Ini dimaksudkan agar anak-anak yang memang beragam itu mendapatkan kesempatan yang sama sesuai kebutuhan unuk memproses dan mengelola informasi.

Aturan tersebut benar-benar dibuat bersama siswa. Tugas guru hanya menyodorkan persoalan (masalah) pembelajaran yang harus diatasi, dan siswa memberikan pendapatnya (brainstorming) untuk kemudian diambil keputusan. Selanjutnya, guru memastikan bahwa aturan yang sudah disepakati itu benar-benar dipatuhi oleh seluruh warga kelas.

Buat sanksi bagi pelanggaran kesepakatan. Sanksi ini penting, karena ada kalanya siswa yang mencoba (atau sengaja) melanggar aturan main. Sekali lagi, tugas guru adalah memastikan bahwa aturan yang sudah disepakati harus dijalankan, dan terhadap pelanggaran harus ada sanksi. Ingat, sanksi yang diberikan harus benar-benar mendidik dan menyenangkan semua pihak, baik yang melanggar atau yang terganggu.

Contoh: aturan, siswa tidak boleh makan di dalam kelas ketika bel masuk sudah berbunyi. Sanksi, anak yang melanggar harus memberi semua teman di kelas dengan makanan yang dimakan (siswa yang melanggar harus mentraktir teman-temannya dengan makanan yang sama yang dia makan).

Misalnya siswa masih mengulum permen di dalam kelas. maka sanksinya adalah siswa tadi harus memberikan permen yang sama kepada seluruh siswa di kelas itu. Ini menarik, karena siswa yang merasa terganggu justru mendapatkan satu permen yang bisa dinikmati, sementara siswa yang terkena sanksi tidak merasa keberatan meskipun ia harus membeli permen untuk sejumlah siswa.

Agar sanksi ini tidak memberatkan siswa namun tetap jalan, maka kepada siswa yang terkena sanksi tadi diberi kesempatan berapa hari ia sanggup memenuhi kewajiban sanksi. Uang yang digunakan adalah uang jajan siswa bersangkutan, tidak boleh meminta kepada orangtua.

Misalnya uang jajan siswa setiap hari Rp 2.000,00 maka kepada siswa itu ditanyakan berapa ia sanggup menyisihkan uang setiap harinya agar bisa membeli permen untuk sejumlah siswa di kelas. Misalnya ia sanggup menyisihkan uang Rp 1.000,00 dan harga permen adalah Rp 5.00,00 dan jumlah siswa di kelas itu 30 orang, maka selama 15 hari anak itu harus sudah bisa memenuhi kewajibannya.

Nanti setelah 15 hari anak itu ditagih. Hasil, sanksi ini lebih efektif daripada siswa disuruh lari sebagai hukuman atau dicatat sebagai point pelanggaran. Orang tua juga tidak bisa menuntut pihak sekolah karena sanksi itu dibuat oleh siswa sendiri dan sudah disepakati bersama.

Apabila siswa yang melanggar tidak melaksanakan sanksi, maka tugas guru tinggal mengingatkan bahwa hidup itu tidak bisa seenak sendiri. Kalau siswa tetap tidak mau, maka guru bisa memberikan pilihan kepada siswa: mengikuti aturan yang sudah dibuat, atau boleh seenaknya tetapi dia tidak boleh berada di dalam kelas yang anak-anaknya sudah tertib.

Pembelajarannya: kebebasan individu tidak boleh mengganggu individu lain karena orang lain juga memiliki kebebasan untuk tidak terganggu oleh orang lain yang menggunakan kebebasan individunya. Ini sama dengan hidup di masyarakat yang tidak boleh hidup seenaknya sendiri, melainkan harus peduli terhadap orang lain (tenggang rasa, empati).

Itulah langkah awal yang perlu diperhatikan agar proses pembelajaran yang kita laksanakan tidak keluar jalur. Untuk tips lanjutannya kita bahas pada postingan mendatang, agar bahasan kita tidak terlalu panjang. So, stay tuned in this website.

In Category: Belajar & Pembelajaran

Buat Video Keren dengan Smartphone Anda!

KLIK DI SINI!
Show 0 Comments
No comments yet. Be the first.
Essential SSL