Tip Sukses Mengajar Membaca Dengan Metode Abjad

Tulisan ini merupakan penguatan dari metode mengajar membaca untuk siswa kelas I Sekolah Dasar (SD) yang sudah pernah diterbitkan di gurusukses.com dan mendapatkan perhatian dari banyak pembaca.

Namun untuk menambahkan informasi penting berdasarkan pengalaman mengajar teman-teman guru yang telah mencobakan metode ini, maka tulisan ini dibuat. Pada artikel ini ada penambahan beberapa informasi sebagai pelengkap. Silakan melanjutkan membaca!

Pengertian

Mengajar membaca dengan metode abjad berarti memulai pembelajaran membaca itu dengan mengenalkan abjad kepada siswa. Melalui abjad-abjad yang sudah dikenal itu, guru kemdian merangkaikannya menjadi kata. Dari kata-kata yang dikenal pula, guru kemudian membuat kalimat.

Langkah-langkah pembelajaran

Mula-mula guru memperkenalkan huruf (abjad) kepada siswa: a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z. Tidak perlu 26 huruf tersebut dikenalkan sekaligus, tetapi cukup beberapa huruf yang dibutuhkan. Misalnya lima huruf terlebih dahulu: a, b, c, d, e; atau tiga huruf: a, b, c.

Ingat, siswa kelas I SD kemampuan mengingatnya masih terbatas. Sebab itu proses pengenalan huruf sebaiknya diatur. Pada awal pertemuan, jangan terlalu banyak huruf yang dikenalkan. Cukup tiga hingga lima huruf.

Untuk menarik perhatian siswa, sebaiknya huruf-huruf yang dikenalkan tersebut dibuat besar-besar pada kertas kover dan ditempelkan di papan tulis (bisa juga menggunakan papan flanel apabila tersedia di sekolah).

Selain dipasang di papan tulis, masing-masing huruf juga perlu ditulis di kartu (kartu huruf, satu huruf satu kartu), dan siswa diusahakan untuk memilikinya (sekolah bisa mengusahakan kartu huruf ini).

Guru memberikan contoh cara membaca huruf, dan meminta siswa menirukan. Mula-mula seluruh kelas, kemudian separoh kelas, seperempat kelas, per dua bangku, akhirnya perorangan, kembali dua bangku, seperempat kelas, separoh kelas, dan kembali ke seluruh kelas.

Harus dipastikan bahwa setiap siswa benar-benar mengenal dan memahami huruf yang dikenalkan tersebut. Jangan berpindah ke huruf lain sebelum huruf yang dikenalkan benar-benar dipahami oleh siswa.

Ini penting; sebab, jika siswa belum paham kemudian guru menambah dengan huruf lain, maka siswa justru tidak akan bisa memahami apa-apa. Mereka menjadi cuek, tak mau lagi memperhatikan guru.

Apabila guru sering menegur anak-anak (yang belum paham dan berubah menjadi cuek), maka mereka akan frustrasi, dan mungkin tak mau lagi berangkat ke sekolah.

Nah, jika terjadi demikian, maka guru akan merasa sangat bersalah karena tidak berhasil membelajarkan siswa.

Apabila pengenalan huruf tadi sudah lancar, maka guru mulai bisa menugaskan beberapa siswa untuk mengambil huruf-huruf tertentu dari kartu-kartu huruf yang tersedia.

Biarkan siswa mengenal huruf-huruf itu tanpa makna karena tujuannya adalah mengenal dan memahami huruf (abjad).

Lakukan kegiatan ini berulang-ulang sehingga siswa benar-benar mengenal dan memahami huruf-huruf itu.

Selanjutnya, kegiatan dapat ditingkatkan dengan membentuk kata. Pilih beberapa konsonan dan vokal, yang apabila digabungkan bisa menjadi kata yang bermakna.

Misalnya: m a m a. Tempel atau tulis huruf m-a-m-a di papan tulis. Tunjukkan kepada siswa bahwa kata itu dibaca mama.

Kemudian tanyakan kepada siswa kata mama itu terdiri dari huruf apa saja, dan arahkan agar siswa dapat menyimpulkan sendiri bahwa apabila huruf m digabung dengan huruf a dibaca ma.

Berikan contoh yang lain, misalnya: papa, nana, tata, dan lain-lain.

Begitu seterusnya, guru mulai menggabung-gabungkan konsonan dengan vokal, sehingga seluruh vokal (a, e, i, o, u) bisa digunakan. Namun untuk konsonan tidak perlu diberikan semua. Huruf x dan z lebih baik diberikan belakangan.

Setelah siswa bisa membaca gabungan dua huruf konsonan-vokal, susunan bisa diganti menjadi vokal-konsonan. Misalnya: am, an, as, dan lain-lain.

Setelah ini baru bisa dilanjutkan dengan tiga huruf (konsonan-vokal-konsonan). Misalnya: man, dan, bas, dan lain-lain.

Catatan: Perlu diupayakan agar huruf-huruf yang dikenalkan kepada siswa dalam suatu pertemuan pembelajaran (ditambah dengan huruf-huruf yang sudah diajarkan sebelumnya) bisa dirangkai menjadi kata sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Bacaan terkait silakan cek: Mengajar Membaca di Kelas I SD (lanjutan).

0 comments… add one

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Essential SSL