Siswa Acuh Tak Acuh Dalam Belajar, Haruskah Dibiarkan?

Seorang pengunjung halaman Guru Sukses Dot Com mengirim pesan seperti ini: “Menurut fsikolog siswa akan belajar saat dia membutuhkan , maka jangan risau saat siswa acuh rak acuh dalam belajar mungkin saat itu mereka belum membutuhkaan ilmu tsb , namun saat dia membutuhkan ilmu mungkin sudah bekerja diaa akan mencarinya sendiri ,” (pesan sengaja tidak diedit).

Agaknya pesan tersebut ditujukan kepada para guru berdasarkan kata-kata, “maka jangan risau saat siswa acuh tak acuh dalam belajar.”

Sebuah pertanyaan jika Anda adalah seorang guru: “Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut?”

Tulisan ini akan menyajikan informasi bagaimana seharusnya guru bersikap terkait dengan siswa yang acuh tak acuh dalam belajar (proses pembelajaran di kelas).

Setuju sebagian namun tidak setuju pada bagian lainnya

Kami setuju dengan sebagian pernyataan namun tidak setuju dengan bagian pernyataan yang lain. Pendapat ini sengaja kami tulis di gurusukses, dengan harapan dapat menginspirasi sahabat guru yang lain.

Kami setuju bahwa “siswa akan belajar saat dia membutuhkan.” Tetapi, kami tidak setuju dengan pernyataan lanjutannya, yang berbunyi, “maka jangan risau saat siswa acuh rak acuh dalam belajar mungkin saat itu mereka belum membutuhkaan ilmu tsb , namun saat dia membutuhkan ilmu mungkin sudah bekerja diaa akan mencarinya sendiri.”

Guru harus risau ketika melihat murid-muridnya tidak belajar dengan baik. Ketika guru tidak risau melihat siswa acuh tak acuh dalam belajar, maka itu berarti bahwa guru tidak melakukan apa-apa terhadap siswa yang acuh tak acuh dalam belajar tersebut.

Dalam proses pembelajaran di kelas, maka, kemungkinannya, guru akan tetap melaksanakan pembelajaran tanpa mempedulikan siswa yang acuh tak acuh tersebut.

Jika ini terjadi, pembelajaran menjadi tidak kondusif sekaligus tidak efektif. Tidak kondusif, karena siswa yang acuh tak acuh tadi akan melakukan kegiatan apa pun selain belajar, yang pada gilirannya justru akan mengganggu proses pembelajaran itu sendiri.

Selanjutnya, karena proses pembelajaran tidak kondusif, maka proses pembelajaran menjadi tidak efektif. Mungkin hanya sebagian siswa yang berhasil mencapai target pembelajaran tetapi tidak seluruh siswa di kelas (terutama siswa yang acuh tak acuh dalam belajar).

Pembelajaran yang tidak memberikan dampak hasil belajar tentunya tidak dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang efektif.

Baca: Bersikap Inklusif dalam Mengajar.

Lebih dari itu, guru yang membiarkan proses pembelajaran tidak kondusif tersebut sesungguhnya telah melalaikan tugasnya sebagai pendidik.

Guru bukan sekedar sebagai pengajar melainkan juga sebagai pendidik

Dalam PP 74 tahun 2008 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Sebagai pendidik, guru harus berusaha secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (lihat UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 angka 1).

Berdasarkan kedua rujukan terakhir tersebut, maka guru harus melakukan sesuatu secara sengaja (berusaha secara sadar dan terencana) untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Guru wajib menciptakan situasi atau kondisi yang memungkinkan siswa berkembang dalam suasana belajar atau proses pembelajaran.

Yang harus dilakukan guru terkait pembelajaran di kelas

Terkait dengan pembelajaran di kelas, guru harus kreatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang menantang rasa ingin tahu siswa, membangkitkan gairah siswa untuk belajar, sekaligus menyediakan pembelajaran yang membuat siswa merasa butuh untuk belajar.

Baca juga: Menciptakan Lingkungan Kelas Yang Bersahabat Dan Saling Menghargai

Jika guru mengajar hanya menyampaikan pelajaran (berceramah, misalnya), maka wajar jika siswa tidak tertarik dan tidak merasa membutuhkan ilmu yang diajarkan oleh guru. Akibatnya, siswa tidak mengikuti pembelajaran secara baik.

Padahal, siswa harus menguasai kompetensi-kompetensi tertentu untuk dapat dikatakan sebagai memenuhi kriteria — kita mengenal istilah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) — berarti ada target yang harus dicapai oleh anak (siswa) dalam proses pembelajaran.

Jika guru hanya menunggu hingga siswa merasa butuh, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai, dan ini berarti kompetensi tidak dapat dikuasai oleh siswa. Selanjutnya, jika guru tidak dapat membantu siswa mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam pembelajaran, maka berarti pembelajaran tidak berhasil. Jika pembelajaran tidak berhasil, maka guru dapat pula dikatakan sebagai tidak berhasil menjalankan tugasnya, alias gagal!

Patut direnungkan

Apakah seorang guru profesional rela membiarkan siswanya gagal mencapai target kompetensi yang harus dikuasai, yang pada gilirannya juga akan berdampak pada kegagalan guru dalam menjalankan tugas? Tentu saja tidak. Sebab itu guru akan berusaha dengan sekuat tenaga dan pikiran demi keberhasilan siswa yang menjadi tanggung jawabnya.

Jangan lupa baca juga: Memahami Indera Belajar Siswa

Keberhasilan siswa adalah keberhasilan guru, dan keberhasilan siswa akan memberikan kepuasan batin bagi guru. Dengan logika yang sama, maka kegagalan siswa adalah kegagalan guru, dan kegagalan siswa akan mendatangkan kekecewaan bagi guru.

Jadi, jangan biarkan siswa acuh tak acuh dalam belajar. Lakukan sesuatu untuk membuat mereka belajar secara benar!

Panduan Mengajar Anak-anak Membaca (Berbahasa Inggris)

Klik di Sini!
No comments yet. Be the first.
%d blogger menyukai ini:
Essential SSL