WebHost Murah dengan kapasitas tinggi, silakan KLIK di sini!

Merancang Pembelajaran Yang Menjamin Keterlibatan Siswa

Pembelajaran Yang Melibatkan Siswa

Pada artikel sebelumnya kami telah menyampaikan bahwa keterlibatan siswa dalam pembelajaran itu penting untuk mencapai keberhasilan pembelajaran. Namun tidak setiap siswa terlibat aktif dari awal hingga akhir sehingga pada akhir pembelajaran hanya sebagian saja siswa yang berhasil.

Artikel ini masih ada kaitannya dengan artikel sebelumnya, dan membahas bagaimana merancang pembelajaran yang menjamin keterlibatan siswa.

Keterlibatan Siswa Sebagai Bagian Dari Sistem Pembelajaran

Jika pembelajaran di kelas adalah sebagai sebuah sistem (sistem pembelajaran), maka ia terdiri dari beberapa komponen pembentuk sistem, yang bekerja secara sinergis, saling terkait dan saling mendukung untuk kelancaran dan keberhasilan pembelajaran.

Satu saja komponen sistem tidak jalan secara normal, maka ia akan mengganggu kerja komponen yang lain, yang pada akhirnya akan mengganggu kelancaran dan keberhasilan kerja sistem, dalam hal ini keberhasilan pembelajaran.

Salah satu komponen dalam sistem pembelajaran adalah keterlibatan siswa. Kami memasukkan keterlibatan siswa sebagai sebuah komponen dalam sistem pembelajaran karena peran penting komponen tersebut. Ya, tanpa keterlibatan siswa, maka pembelajaran di kelas tidak berarti apa-apa.

Jadi, siswa harus benar-benar terlibat secara aktif dalam pembelajaran.

Keterlibatan siswa sebagai satu komponen dalam sistem pembelajaran juga terdiri dari beberapa komponen yang berbeda, yang saling terkait dan saling mendukung untuk keberhasilan kerjanya. Kami sebut keterlibatan siswa sebagai subsistem dan komponen pendukung sebagai subsubsistem.

Subsistem keterlibatan siswa dalam sistem pembelajaran ini terdiri dari beberapa subsubsistem, di antaranya: kegiatan dan tugas, pengelompokan siswa, bahan ajar dan sumber belajar, serta struktur pelajaran dan ketersediaan waktu pelaksanaan.

Merancang Pembelajaran Yang Melibatkan Siswa

Setiap unsur tersebut harus dirancang dengan baik (melalui perencanaan pembelajaran) untuk memastikan dan mendukung keterlibatan siswa, sekaligus mendukung unsur yang lain untuk semakin meningkatkan keterlibatan siswa. Mari kita lihat satu demi satu.

Kegiatan dan tugas. Ketika siswa secara aktif terlibat dalam pembelajaran, kegiatan dan tugas mereka (termasuk pekerjaan rumah) menantang mereka untuk berpikir secara luas dan mendalam, untuk memecahkan masalah, atau sebaliknya melakukan pemikiran nonrutin.

Sebuah teknik penting untuk menentukan tingkat keterlibatan siswa dalam kegiatan dan tugas di kelas adalah dengan memeriksa bukan saja petunjuk bagi kegiatan dan tugas itu sendiri melainkan juga kualitas pekerjaan siswa dalam merespon petunjuk.

Ketika siswa tidak terlibat, mereka akan “mengabaikan”, sedangkan saat mereka terlibat dalam tugas, pekerjaan mereka, meski tidak tepat, mencerminkan pemikiran serius.

Jadi, dalam merancang kegiatan dan tugas, guru harus memberikan petunjuk yang jelas dan mudah dipahami oleh siswa, kegiatan dan tugas masih dalam jangkauan siswa (dapat dilakukan oleh siswa), sekaligus membangkitkan semangat siswa untuk melaksanakannya dengan baik.

Tingkat performa terbaik: Seluruh siswa terlibat secara kognitif di dalam kegiatan dan tugas dalam mengeksplorasi isi pelajaran. Para siswa memulai atau menyesuaikan aktivitas dan projek untuk meningkatkan pemahaman mereka.

Pengelompokan siswa. Untuk menambah tingkat keterlibatan, para siswa mungkin dikelompokkan dalam beberapa cara yang berbeda: dalam satu kelompok besar, dipimpin oleh guru atau siswa lain; dalam kelompok-kelompok kecil, baik mengerjakan pekerjaan sendiri maupun aktivitas instruksional dengan guru; atau mandiri.

Di dalam kelompok-kelompok kecil, tingkat kemampuan dan keterampilan siswa di dalam suatu bidang bisa homogen atau heterogen. Pengelompokan bisa berpasangan, bertiga, atau dalam konfigurasi lain yang dibuat oleh siswa maupun guru.

Keputusan-keputusan guru tentang pengelompokan siswa didasarkan pada sejumlah pertimbangan. Yang paling penting, jenis kelompok pembelajaran harus merefleksikan apa yang ingin dicapai oleh guru dan harus mendukung tujuan.

Di beberapa kasus, kelompok homogen yang mengerjakan tugas sendiri akan menjadi yang paling efektif. Pada saat yang lain, sebuah presentasi kelompok besar, diikuti oleh kelompok-kelompok heterogen, mungkin sudah memadai.

Perlu dicatat bahwa guru biasanya memvariasikan pengelompokan instruksional dalam satu pelajaran tunggal, dan mereka pasti mengubahnya dari hari ke hari berikutnya. Kerja kelompok kecil, meskipun strategis dan efektif untuk berbagai keperluan, akan menjadi membosankan apabila digunakan secara eksklusif.

Tingkat performa terbaik: Kelompok pembelajaran produktif dan sesuai untuk siswa atau tujuan pembelajaran. Siswa mengambil inisiatif untuk mempengaruhi pembentukan dan pengaturan kelompok-kelompok pembelajaran.

Bahan ajar dan sumber belajar. Bahan ajar dapat meliputi materi apa saja yang membantu siswa terlibat dengan konten: buku teks (buku pelajaran), bacaan, peralatan laboratorium, peta, chart, internet, film, video, matematika manipulatif, dan lain-lain. Sumber belajar mungkin meliputi pengunjung dari luar atau materi dari musium lokal.

Bahan ajar dan sumber belajar sendiri bukanlah melibatkan atau tidak melibatkan; tetapi adalah penggunaan siswa atau guru atas bahan ajar atau sumber belajar tersebut yang menentukan.

Adalah penting bahwa bahan ajar dan sumber belajar tersebut sesuai dengan siswa dan dapat diaplikasikan untuk mencapai hasil belajar. Misalnya, siswa dapat menggunakan materi laboratorium untuk merumuskan dan menguji hipotesis tentang suatu fenomena, atau seorang guru dapat menggunakannya untuk menyajikan eksperimen, dengan siswa sebagai pengamat.

Tingkat performa terbaik: Bahan ajar dan sumber belajar sesuai untuk tujuan pembelajaran dan melibatkan siswa secara mental. Siswa memulai pemilihan, penyesuaian, atau penciptaan bahan ajar untuk meningkatkan belajar mereka.

Struktur dan ketersediaan waktu. Pelajaran yang dirancang dengan baik memiliki struktur yang jelas, dan siswa tahu di mana mereka berada dalam struktur itu. Beberapa pelajaran memiliki awal, tengah, dan akhir yang mudah dikenali, dengan pembukaan dan penutupan yang jelas.

Ketersediaan waktu berhubungan dengan struktur. Di kelas yang ditandai dengan keterlibatan siswa, waktu yang cukup untuk pelaksanaan yang sesuai dengan siswa dan isi kegiatan sekaligus kesempatan yang sesuai untuk penutupan harus tersedia. Siswa tidak merasa tergesa-gesa dalam pekerjaan mereka, namun juga tidak terlalu lama “beristirahat” sementara beberapa siswa lain menyelesaikan pekerjaan mereka.

Tingkat performa terbaik: Struktur pelajaran benar-benar jelas, bertalian secara logis, memungkinkan untuk refleksi dan penutupan. Waktu untuk pelaksanaan tidak lebih dan tidak kurang, sehingga siswa tidak tergesa-gesa sekaligus tidak berleha-leha dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran. Ketersediaan waktu pelaksanaan pelajaran harus cukup untuk seluruh siswa.

Sumber: Enhancing Professional Practice: A Framework for Teaching (Charlotte Danielson).

 
Daftarkan Diri Anda Untuk Mendapatkan Informasi Penting Langsung Melalui Email Anda KLIK DI SINI
 
%d blogger menyukai ini:
Essential SSL