Ketahuilah, Siswa Anda Tidak Seluruhnya Berpikir Seperti Anda Para Guru

memahami cara berpikir siswa

Tulisan ini terutama buat Bapak/Ibu guru yang mengajar di kelas-kelas rendah jenjang pendidikan dasar. Banyak dari kita para guru yang menganggap siswa kita berpikir seperti kita: sekali mendengar informasi langsung memahami seluruhnya.

Sebagai contoh, kita menyampaikan informasi atau menjelaskan materi pelajaran kepada kelas (dengan metode ceramah) cukup hanya sekali saja, tidak berusaha untuk mengulang-ulang beberapa informasi penting, dan menganggap seluruh siswa dapat memahami informasi atau penjelasan yang kita sampaikan.

Kenyataannya tidak demikian. Mungkin hanya sebagian kecil siswa di kelas kita yang dapat menangkap dan memahami seluruh informasi penting yang kita sampaikan, tetapi tidak untuk sebagian besar siswa lain di kelas. Bahkan untuk yang sudah memahami informasi yang kita sampaikan pun, belum tentu mereka menjalankan tugas sesuai petunjuk kita.

Cerita Siswa Kelas V SD Yang Belum Menguasai Pembagian Dasar (Matematika)

Suatu hari, seorang kepala sekolah di sebuah sekolah dasar melihat beberapa siswa kelas V yang ditahan oleh gurunya di depan kelas (belum diperbolehkan masuk kelas bersama siswa yang lain). Kepala sekolah coba mendekati kelompok tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi. Rupanya bu guru kelas sedang mengetes siswa tersebut tentang pembagian.

Ternyata, siswa kelas V SD masih ada yang belum lancar perkalian dan pembagian dasar. Misalnya: 8 x 7, 72 : 9, 100 : 4, dan semacamnya.

Kepala sekolah (dengan seijin guru kelas) kemudian memberikan tugas kepada siswa tersebut untuk membawa lidi yang dipotong kecil-kecil (ukuran 10 cm) sejumlah 100 buah keesokan harinya, dan menghadap kepala sekolah dengan membawa lidi tersebut di waktu pagi sebelum bel masuk sekolah berbunyi atau pada saat istirahat.

Sesuai hari yang ditentukan (hari berikutnya), ternyata tidak satu pun siswa yang diberi tugas tersebut menghadap kepala sekolah.

Ini adalah bukti pertama bahwa tidak setiap siswa dapat memahami seluruh informasi atau menjalankan tugas sesuai informasi yang diterima. Ini berarti bahwa tidak seluruh siswa berpikir seperti gurunya berpikir!

Hari berikutnya, kepala sekolah mendatangi kelas di mana beberapa siswa tertahan oleh guru kelasnya karena belum menguasai perkalian dan pembagian dasar. Kepala sekolah menanyakan tugas yang diberikan kepada siswa, dan meminta mereka untuk datang ke ruang kepala sekolah setelah mendapatkan ijin dari guru kelas.

Betul juga, anak-anak yang jumlahnya ada sembilan orang tersebut datang ke ruang kepala sekolah. Mereka kemudian disuruh menunjukkan tugas yang sudah dilaksanakan. Masing-masing membawa segepok lidi (jumlah yang diminta 100 biji), dan menunjukkannya kepada kepala sekolah.

Kepala sekolah kemudian menyuruh tiga dari mereka untuk menghitung ulang untuk memastikan apakah lidi yang dibawa itu berjumlah 100 biji. Mereka melakukannya (bahkan termasuk yang lain) dan menyebutkan bahwa lidi yang dibawa tersebut sejumlah 100 biji.

Kemudian kepala sekolah menanyakan kepada ketiga anak tersebut begini, “Seratus itu kalau dibagi lima ada berapa?” Tak seorang pun menjawab. Mereka tampak bingung!

Melihat hal tersebut kepala sekolah lantas menyuruh mereka untuk membagi 100 potongan lidi menjadi lima kelompok, dengan cara menempatkan lidi pada kolom (di lantai) 1, 2, 3, 4, 5 dengan jumlah yang sama banyak. Setiap kali mengisi lantai 1, maka lantai 2, 3, 4, dan 5 harus juga diisi dengan jumlah yang sama, sehingga 100 lidi masuk ke kolom.

gambar anak menghitung

Sampai di sini, dengan tugas yang sederhana tersebut, mungkin Anda berpikir atau menduga bahwa ketiga anak akan dapat melakukannya dengan benar!

Tetapi kenyataannya tidak. Tak satu pun dari ketiga anak yang diberi tugas oleh kepala sekolah melakukannya dengan benar.

Bersambung, KLIK untuk melanjutkan …

 

 

0 comments… add one
%d blogger menyukai ini:
Essential SSL