interaksi sosial di kelas

Anda pernah belajar di sekolah — baik di jenjang SD, SMP, SMA, atau Perguruan Tinggi. Mari kita sejenak melakukan flashback. Coba Anda ingat-ingat salah seorang guru favorit Anda (boleh ketika Anda sedang belajar di SD, SMP, SMA, atau di bangku kuliah).

Jika Anda sudah nenemukan seseorang yang menjadi guru favorit Anda, coba ingat-ingat, mengapa Beliau menjadi guru favorit Anda? Kata-kata atau tindakan apa dari Beliau yang membuat Anda memfavoritkannya?

Biasanya, seorang guru difavoritkan oleh para siswa karena perlakuan yang baik dari guru terhadap para siswa. Guru yang memahami siswanya, guru yang santun dan sayang kepada siswa, guru yang tidak menakuti atau bahkan “menyakiti” siswa. Guru favorit adalah guru yang selalu berada di pihak siswa!

Guru favorit biasanya berada pada atau berasal dari komunitas kelas yang memiliki interaksi sosial yang berkualitas. Tulisan ini akan membahas pengertian interaksi sosial di kelas dan interaksi sosial berkualitas versus tidak berkualitas.

Pengertian Interaksi Sosial di Kelas

Maria Widyarini dkk (2016) memilih definisi interaksi sosial dari beberapa tokoh seperti berikut:

“Interaksi sosial didefinisikan sebagai situasi di mana perilaku satu aktor mempengaruhi perilaku orang lain, dan sebaliknya (Manski, 2000; Scheinkman, 2008; Thompson & Hickey, 2005; Turnewr, 1988).”

Di lingkungan kelas, dalam pembelajaran sehari-hari, sesungguhnya juga terjadi interaksi sosial. Dalam konteks ini, interaksi sosial terjadi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, bahkan siswa dengan guru. Pendek kata, interaksi sosial di kelas adalah interaksi sosial yang terjadi di antara seluruh warga kelas.

Atau, merujuk pada definisi di atas, interaksi sosial di kelas adalah situasi di mana perilaku satu anggota kelas mempengaruhi perilaku anggota kelas yang lain, dan sebaliknya.

Dalam situasi ini, setiap individu (baik guru maupun siswa) memiliki peluang untuk mempengaruhi anggota komunitas yang lain. Contoh: perilaku guru mempengaruhi perilaku siswa, perilaku siswa mempengaruhi perilaku siswa lain, bahkan perilaku siswa juga dapat mempengaruhi perilaku guru.

Agar kelas menjadi komunitas belajar yang baik dan berkualitas, maka perlu dibangun interaksi sosial yang berkualitas di kelas tersebut. Dalam hal ini, guru sebagai orang dewasa dan pemimpin tertinggi di kelas memiliki peran penting dan sangat kuat untuk membangun interaksi sosial yang berkualitas di kelas.

Interaksi Sosial di Kelas: Berkualitas versus Tidak Berkualitas

Interaksi sosial yang terjadi di kelas dapat dikelola menjadi interaksi sosial yang berkualitas, namun dapat pula menjadi interaksi sosial yang tidak berkualitas apabila tidak ditangani secara benar.

Acuan untuk penentuan interaksi sosial di kelas ini, setidaknya (menurut hemat penulis), harus mencakup tiga hal, yakni: kemanusiaan, sopan santun, dan dukungannya terhadap keberhasilan pencapaian kompetensi oleh siswa.

Kemanusiaan. Interaksi sosial adalah interaksi yang terjadi di antara manusia. Oleh karena itu, apa pun yang dilakukan di kelas terkait dengan saling berinteraksi di antara warga kelas (baik lisan maupun perbuatan), harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Setiap warga kelas harus menghargai dan menghormati warga kelas yang lain sebagai manusia yang bermartabat, baik guru kepada siswa, siswa kepada siswa lain, atau siswa kepada guru.

Sopan santun. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sopan santun berarti: n budi pekerti yang baik; tata krama; peradaban; kesusilaan: — dalam pergaulan sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Interaksi sosial di kelas harus tetap menjaga adat kesopanan, menunjukkan budi pekerti yang baik, menjunjung tinggi tata krama di masyarakat, beradab, dan tidak melanggar kesusilaan.

Mendukung keberhasilan. Komunitas sekolah adalah sebuah komunitas yang terdiri dari para anggota (siswa) yang sedang belajar untuk mencapai kompetensi tertentu. Sebab itu interaksi yang terjadi di kelas harus dapat mendukung setiap anggota kelas untuk berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan.

Mereka harus saling mendukung dan saling menguatkan agar seluruh warga kelas berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan. Mereka saling menyemangati dan saling memberikan pujian.

Siswa yang sudah terlebih dahulu berhasil mencapai kompetensi harus tetap memberikan dorongan dan dukungan kepada teman yang belum berhasil, sekaligus berusaha untuk membantu teman-temannya agar mereka juga dapat berhasil mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Sementara itu, siswa yang belum berhasil harus rela memberikan pujian kepada teman-temannya yang telah berhasil, sekaligus tetap semangat (dengan dukungan dan semangat dari teman-temannya) dalam usahanya untuk juga berhasil mencapai kompetensi.

Berdasarkan ketiga acuan di atas, maka interaksi sosial yang berkualitas di kelas dapat dimaknai sebagai interaksi antara warga kelas yang saling menghargai, saling mendukung, dan saling menguatkan untuk berhasil mencapai kompetensi pembelajaran dengan menjaga kesopanan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Dalam situasi ini, tidak ada satu warga kelas pun yang merasa terhina, terlecehkan, terbuli, atau tertinggal, bahkan menjalani kehidupan kelas dengan tanpa semangat untuk maju.

Interaksi sosial yang terjadi sebaliknya, di mana di antara warga kelas ada yang merasa tersakiti (fisik maupun nonfisik), ditinggalkan oleh kelompoknya untuk maju, merasa diejek teman, dan lain-lain, maka interaksi sosial ini disebut interaksi sosial yang tidak berkualitas.