Implikasi Tugas Guru Berdasarkan Prinsip-prinsip Pembelajaran Menurut Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016

14 prinsip pembelajaran

Menurut Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI), terdapat 14 prinsip pembelajaran yang harus digunakan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran di kelas.

Sehubungan hal tersebut, maka guru dalam menyusun perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran harus benar-benar mempertimbangkan 14 prinsip pembelajaran dimaksud.

Dengan kata lain, dalam mengelola proses pembelajaran, guru harus melakukan perubahan dari yang biasanya dilakukan, sejak penyusunan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran hingga penilaian pembelajaran.

Di bawah ini adalah contoh implikasi tugas atau kegiatan siswa dan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas berdasarkan 14 prinsip pembelajaran.

No.
Prinsip Pembelajaran
Siswa
Guru
1
Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu. Membaca, mengamati, mempertanyakan, melakukan percobaan. Menyediakan fasilitas, sumber belajar, mengajarkan teknik atau cara menemukan sumber, membuat prosedur.
2
Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar. Mencari sumber belajar, mencari nara sumber, melakukan wawancara. Membuat tugas, memberikan arahan, menyediakan sumber belajar.
3
Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah. Melakukan kajian, demonstrasi, percobaan, membuat sinopsis, parafrase. Mengajarkan cara, membuat langkah-langkah, prosedur.
4
Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi. Mencari konten dari berbagai sumber sebagai sarana untuk mencapai kompetensi. Menjadikan konten sebagai sarana untuk mengembangkan kompetensi siswa, bukan sebagai tujuan. Guru tidak mengajarkan konten kepada siswa, tetapi menggunakan konten sebagai sarana untuk membantu siswa mencapai kompetensi.
5
Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu. Membuat jalinan antarpengetahuan untuk menjadi pengetahuan yang lebih menyeluruh. Menyelenggarakan pembelajaran tematik terpadu. Pembelajaran tidak berbasis mata pelajaran tetapi berbasis tema, dan dilaksanakan secara terpadu.
6
Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi. Berpikir kreatif, berdasarkan praktik atau percobaan, proses penemuan. Menyusun soal yang menghasilkan jawaban multi dimensi, bukan jawaban tunggal. Contoh: Berapa lima ditambah tiga? Jawabnya: delapan (jawaban tunggal). Diganti: Pilihlah dua angka yang apabila dijumlahkan hasilnya delapan! Atau: berapa ditambah berapa sama dengan delapan? Jawabnya: 0+8, 8+0, 1+7, 7+1, 2+6, 6+2, 3+5, 5+3, 4+4 (ada sembilan jawaban benar yang berbeda).
7
Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif. Siswa mempraktikkan dan menggunakan pengetahuan atau keterampilan untuk keperluan sehari-hari. Misalnya: menggunakan teori, prinsip, generalisasi atau rumus untuk mengatasi masalah sehari-hari. Membuat soal yang memerlukan jawaban berpikir tingkat tinggi. Misalnya: pemecahan masalah sampah, lingkungan kotor, dll. Menyediakan referensi untuk memandu siswa mengatasi permasalahan.
8
Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills). Melakukan, mendemonstrasikan, mempraktikkan, menganalisis, mencari solusi. Menyelenggarakan pembelajaran yang demonstratif dan menantang kreativitas dan pemikiran tingkat tinggi.
9
Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat. Membiasakan diri untuk selalu belajar secara mandiri, menguatkan rasa ingin tahu. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, pembinaan karakter, pembiasaan, pembudayaan, pemberdayaan siswa.
10
Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani). Menerapkan nilai-nilai agama, budaya, masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi teladan, memotivasi, menginspirasi, memberikan dorongan, mendukung kreativitas siswa.
11
Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat. Membiasakan diri untuk belajar di mana pun berada. Membangun mindset untuk selalu belajar di mana pun berada (rumah, sekolah, masyarakat).
12
Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas. Belajar, mengajar teman, di mana saja. Belajar lebih banyak (termasuk dari siswa) untuk mengajar yang lebih baik.
13
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Berlatih teknologi, menggunakan teknologi untuk belajar yang efektif dan efisien. Belajar teknologi, menggunakan teknologi untuk pembelajaran yang efektif dan efisien.
14
Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik. Belajar sesuai kemampuan, percaya diri. Menghargai perbedaan, lebih mengenal perbedaan individu siswa.

Berdasarkan contoh Implikasi tugas atau kegiatan siswa dan guru dalam proses pembelajaran tersebut, maka penyusunan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, termasuk penilaian pembelajaran harus disesuaikan.

Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan secara efektif dan efisien dalam pencapaian kompetensi yang sudah ditetapkan.

Baca juga: Menciptakan Lingkungan Kelas Yang Bersahabat dan Saling Menghargai.

Apabila Anda merasa ARTIKEL yang Anda baca di atas bermanfaat, silakan di-SHARE (di-BAGI) untuk teman lain agar mendapatkan manfaat yang sama.
%d blogger menyukai ini:
Essential SSL