Bagaimana Cara Membuat Anak Agar Tidak Ketergantungan dengan Orang tua

Berikut adalah CHAT dari pembaca yang membutuhkan saran:

“saya sudah menjdi guru kelas 1 hampir 5 tahun ,yang masih menjadi PR saya sekarang ,bagaimana cara membuat anak agar tidak ketergantungan dengan orang tua.terkadang orang tua masih menunggu sampai berbulan-bulan.saya mengajar di SDN pedesaan.Mohon sarannya .terimakasih”

Perihal anak kelas 1 masih harus ditunggui oleh orang tua ketika di sekolah bukanlah persoalan khusus. Itu persoalan umum. Hampir di setiap sekolah di awal tahun pelajaran terjadi hal serupa.

Bahkan anak minta ditunggui oleh orang tuanya itu tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah pedesaan, di sekolah perkotaan pun kadang masih ada. Kadarnya saja yang berbeda.

Untuk mengatasinya, kiranya perlu dilakukan kerja sama yang baik antara guru kelas, orang tua, sekolah, dan anak sendiri.

Sebagai gambaran, berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan:

  1. Guru perlu memahami keadaan anak, kebiasaannya di rumah, dengan siapa dia biasanya bermain, bagaimana orang tua memperlakukan anaknya tersebut (ini bisa dilakukan dengan komunikasi dengan orang tua);
  2. Guru, untuk sementara, memberikan perhatian yang lebih kepada anak-anak tersebut, mengajaknya berdialog atau bermain-main (di luar jam pelajaran, misalnya saat istirahat), yang bertujuan untuk membangkitkan kepercayaan anak pada diri sendiri, sekaligus kepercayaan mereka kepada guru kelas dan teman sekelasnya;
  3. Kepada anak-anak tersebut, coba bangkitkan keberaniannya, dan tumbuhkan rasa bangga apabila mereka berani mengikuti pelajaran di sekolah bersama teman-temannya, tanpa ditunggui oleh orang tua mereka. Hal ini bisa dilakukan melalui dialog atau bercerita kepada anak-anak khusu tadi;
  4. Apabila anak-anak sudah menunjukkan persetujuannya kepada poin 3 di atas (dapat dilihat dari sorot mata atau sikap anak-anak ketika mendengarkan cerita atau dialog, mungkin mereka mengangguk-anggukkan kepala), coba berikan tantangan kepada mereka, kapan mereka akan mulai belajar di kelas bersama teman-temannya tanpa orang tua mereka;
  5. Tetap berikan perhatian kepada anak-anak tersebut dan tumbuhkan keberanian dan kebanggaannya pada prestasi yang telah mereka raih (perubahan-perubahan kecil selama proses) hingga waktu yang telah mereka janjikan.
Catatan: Untuk sekolah kami, kami biasanya memberi waktu sampai tiga bulan kepada orang tua untuk tetap menunggui anak-anak yang istimewa tersebut.

Jadi selama tiga bulan pertama tersebut, orang tua masih boleh menunggui anak-anaknya (di luar kelas).

Anak biasanya sering melongok keluar kelas. Asal mereka masih bisa melihat orang tuanya, mereka tenang. Tetapi ketika mereka tidak bisa menemukan orang tuanya, biasanya mereka menangis, dan minta keluar kelas.

Kita memang harus bersabar jika memiliki siswa yang membutukan perhatian khusus tersebut. Tetapi dengan usaha yang sungguh-sungguh, InsyaAllah akan berhasil.

Intinya: anak harus berani dan percaya kepada lingkungan kelas, sekaligus mereka merasa nyaman berada di lingkungan sekolah bersama teman dan guru-gurunya.

Untuk sekolah-sekolah yang sudah tertib melaksanakan penerimaan peserta didik baru sesuai jadwal, sebetulnya hal-hal seperti kesiapan mental, usia, dan lain-lain dapat diantisipasi, sehingga saatnya masuk sekolah, anak-anak sudah siap.

Sebagai contoh: Panitia Pendaftaran dapat mengamati kesiapan calon peserta didik baru kelas 1 dengan melakukan wawancara sederhana (bukan tes), misalnya: menanyakan namanya, nama ayah, nama ibu, nama anggota keluarga lainnya.

Apa yang disukai anak ketika bermain, kebiasaan harian anak, teman yang paling dekat, dan semacamnya.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana calon siswa berani dan siap untuk belajar di sekolah dasar. Untuk selanjutnya, asil pengamatan ini bisa dijadikan panduan oleh guru kelas 1 ketika pelajaran sudah dimulai.

Tetapi untuk sekolah di desa, kadang-kadang penerimaan peserta didik baru justru dilakukan pada saat sekolah sudah masuk di tahun pelajaran baru. Sehingga guru sama sekali belum memiliki gambaran tentang calon siswanya.

Bacaan lain yang mendukung tulisan ini:

*Menyambut Siswa Baru Kelas I SD di Hari Pertama Masuk Sekolah;
*Kegiatan Dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

0 comments… add one

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Essential SSL