Adakah Cara Yang Mudah Untuk Merubah Kebiasaan?

kebiasaan gigit kuku
“Merubah kebiasaan bukanlah sesuatu yang mudah.” Bisa saja orang berusaha, mengumpulkan tekad untuk berhenti dari kebiasaan buruk yang membawanya pada kehidupan sosial yang (maaf, mungkin) memalukan diri dan keluarganya, tetapi begitu orang itu memulai pekerjaan rutin, kebiasaan itu muncul dan dilakukan lagi.

Adalah sebuah contoh, seseorang yang sebut saja namanya Mandy (bukan nama sebenarnya), memiliki kebiasaan yang tidak biasa bagi orang lain. Dia terbiasa menggigit kukunya, mengunyahnya sampai berdarah. Berikut adalah cerita singkatnya.

Mandy sering menggigit sampai kukunya terlepas dari kulit di bawahnya. Ujung jarinya ditutupi dengan scabs kecil. Ujung jari-jarinya telah menjadi tumpul tanpa kuku dan kadang-kadang terasa gatal, tanda cedera saraf.

Kebiasaan menggigit kuku ini telah merusak kehidupan sosialnya. Dia begitu malu di sekitar teman-temannya sehingga dia menyembunyikan tangannya di sakunya dan, pada saat-saat tertentu, akan menjadi sibuk dengan menggerakkan jari-jarinya ke kepalan tangan.

Dia telah mencoba berhenti dengan mengecat kuku-kukunya dengan poles-polesan yang menjijikkan atau berjanji pada dirinya sendiri, mulai sekarang, dia akan berhenti.

Tetapi begitu dia mulai mengerjakan pekerjaan rumah atau menonton televisi, jari-jarinya berakhir di mulutnya.

Cerita diambil dari buku The Power of Habit, Why We Do What We Do in Life and Business (Charles Duhigg, 2014:73)

“Tetapi kebiasaan tidak berarti tidak bisa dirubah.” Kebiasaan bisa dirubah, dan kita dapat membangun kebiasaan baru yang akan membawa kita pada kesejahteraan hidup!

Tulisan ini akan menunjukkan bagaimana kita merubah kebiasaan kita, dari kebiasaan lama (yang merugikan) ke kebiasaan baru (yang menguntungkan). Mari kita mulai!

Definisi Kebiasaan

Sesuai dengan definisi yang sudah kita buat pada tulisan sebelumnya, kebiasaan adalah tindakan atau perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dalam kurun waktu tertentu secara terus-menerus.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, kebiasaan dapat pula diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara rutin atau terus-menerus bahkan sering tanpa kontrol kesadaran kita.

Kebiasaan dapat berupa kebiasaan baik maupun kebiasaan buruk, menguntungkan atau merugikan. Kebiasaan baik akan membawa pelakunya pada keberuntungan, sedangkan kebiasaan buruk akan membawa pelakunya pada kerugian.

Munculnya Kebiasaan

Di atas telah disebutkan bahwa merubah kebiasaan itu bukan sesuatu yang mudah. Tetapi ini tidak berarti tidak bisa dilakukan. Jadi, kebiasaan bisa dirubah!

Secara umum gambarnya munculnya kebiasaan adalah sebagai ilustrasi di bawah ini.

Mula-mula orang mendapatkan pemicu untuk dilakukannya kegiatan atau aktivitas, kemudian orang tersebut melakukan aktivitas karena pemicunya. Dan, ketika dia melakukan aktivitas, atau selesai melakukan aktivitas, dia merasakan adanya sensasi kepuasaan atau kebanggaan atau rasa lega seolah telah menyelesaikan tugas berat.

Selanjutnya, setiap kali pemicu itu muncul, maka orang tersebut langsung melakukan aktivitas yang pernah dilakukan, dan dia pun merasakan sensasi tertentu sebagai “hadiah” dari melakukan aktivitasnya itu.

Aktivitas tersebut dilakukan berulang-ulang, setiap muncul pemicu untuk sensasi yang didapat setelah melakukan aktivitasnya. Bahkan lambat laun, aktivitas yang dilakukan itu menjadi otomatis. Setiap kali muncul pemicunya, maka ia segera melakukan aktivitas yang biasa dilakukan, dan seketika itu pula rasa lega muncul.

Bagaimana Merubah Kebiasaan?

Untuk merubah kebiasaan, maka perlu diberikan perlakuan yang intensif bagi pelakunya. Kebiasaan yang sifatnya fisikal, umumnya lebih mudah cara merubahnya, yakni dengan cara mengganti aktivitas ketika keinginan melakukan kebiasaan muncul.

Misalnya, untuk kasus Mandy di atas. Sebelum dia menggigit kuku-kukunya, biasanya dia merasakan ada semacam tekanan pada ibu jarinya, terasa gatal-gatal. Kemudian dia mulai menggigit-gigit kuku pada ibu jarinya, terus beralih ke kuku pada jari-jari lain hingga seluruh kuku pada jari-jemari tangannya dia gigit.

Selesai melakukan itu, dia merasa lega, seolah-olah telah menyelesaikan suatu tugas khusus.

Untuk kasus Mandy tersebut, maka terapi yang diberikan adalah: kapan pun dia merasakan gatal-gatal atau tekanan pada ibu jarinya, dia harus segera memasukkan tangannya pada saku, dan tetap menahannya di situ hingga rasa gatal atau tekanan pada ibu jarinya menghilang.

Terkesan sederhana? Ya, bagi orang lain. Tetapi bagi Mandy sendiri, menahan gatal-gatal atau tekanan pada ibu jari di dalam saku tersebut membutuhkan perjuangan khusus. Sering sekali dia tergoda untuk mengeluarkan tangannya dari saku dan menggigit kuku-kuku jari tanganya saat muncul rasa gatal atau tekanan pada ibu jari.

Namun dengan kesungguhan dan usaha kerasnya, akhirnya Mandy bisa tersembuhkan dari kebiasaan menggigit kuku pada jari-jemari tangannya.

Catatan: Pada contoh kasus Mandy di atas, kita temukan tiga hal, yakni pemicu/isyarat, rutinitas, dan hadiah. Rasa gatal atau tekanan pada ibu jari adalah pemicunya. Menggigit kuku ibu jari kemudian beralih ke kuku-kuku jari lainnya adalah rutinitas. Dan rasa lega seolah-olah telah menyelesaikan pekerjaan khusus setelah menggigit kuku-kuku semua jari-jemari tangannya adalah hadiah (reward).

Pada contoh tersebut, pemicu atau isyaratnya tetap sama. Rutinitasnya diganti, dari menggigit kuku menjadi memasukkan tangan ke saku. Rewardnya tentunya berubah karena rutinitasnya berubah. Mungkin masih merasa lega, tetapi lega yang ini karena berhasil tidak menggigit kuku pada jari-jarinya (menghindari kebiasaan buruk).

Untuk kebiasaan yang berkaitan dengan kognitif, cara penaganannya lebih rumit dan membutuhkan perlakuan yang lebih intensif dan waktu yang lebih lama.

%d blogger menyukai ini:
Essential SSL